Virus Corona dan COVID-19, Apa Perbedaannya?

Virus Corona

Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). (Dok. WHO)
Virus corona (CoV) adalah keluarga besar virus yang menyebabkan beberapa macam penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti infeksi saluran pernapasan.

Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARS-CoV) adalah salah satu golongan virus corona yang ditemukan di Kota Foshan, Provinsi Guangdong, China pada akhir tahun 2002. Virus ini menyebabkan wabah penyakit SARS, wabah yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan yaitu radang paru-paru atau biasa disebut Pneumonia. Kasus terakhir dari wabah ini terjadi pada bulan Juni 2003. Dalam wabah ini, sebanyak 8.069 orang terinfeksi yang menewaskan 775 orang dengan tingkat kematian mencapai 9,6% (sesuai dengan laporan WHO).

Golongan virus corona lainnya adalah Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV), merupakan salah satu golongan virus corona yang ditemukan di Arab Saudi dan daerah Timur Tengah pada tahun 2012. Virus ini menyebabkan wabah penyakit MERS atau disebut juga Flu Unta, wabah yang juga menyebabkan infeksi saluran pernapasan yaitu radang paru-paru atau biasa disebut Pneumonia. Kasus terakhir dari wabah ini terjadi pada bulan September 2019. Dalam wabah ini, sebanyak 2.506 orang terinfeksi yang menewaskan 862 orang dengan tingkat kematian mencapai 34,3% (sesuai dengan laporan WHO). Sedangkan golongan virus corona yang ditemukan baru-baru ini adalah SARS-CoV-2.

COVID-19 

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit yang disebabkan oleh golongan virus corona baru yaitu SARS-CoV-2 yang ditemukan di kota Wuhan, China, pada Desember 2019 dan belum pernah ditemukan pada manusia. Sebelumnya, penyakit ini disebut sebagai 2019-nCoV yang kemudian diganti menjadi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Nama penyakit ini diumumkan oleh WHO (World Health Organization) untuk penamaan penyakit menular manusia yang baru.

Gejala yang paling umum seseorang jika terjangkit penyakit ini adalah demam, kelelahan, batuk kering, dan sesak napas. Beberapa pasien mungkin mengalami sakit dan nyeri otot, hidung tersumbat, pilek, berdahak, sakit tenggorokan atau diare. Sebagian besar kasus menghasilkan gejala ringan, beberapa berkembang menjadi pneumonia berat dan kegagalan organ dalam tubuh.

Bagaimana COVID-19 bisa menginfeksi manusia?

Virus corona adalah zoonosis, artinya ditularkan antara hewan dan manusia. Investigasi terperinci menemukan bahwa SARS-CoV ditularkan dari luwak ke manusia dan MERS-CoV dari unta ke manusia. Sedangkan, COVID-19 pada awalnya diduga ditularkan dari kelelawar ke manusia. Menurut investigasi WHO, sejauh ini resiko tertinggi seseorang dapat terinfeksi COVID-19 adalah dari orang lain yang sudah terinfeksi. Berikut adalah gambaran bagaimana seseorang dapat terinfeksi:

Ilustrasi cara batuk atau bersin yang benar.
Virus ini dapat menyebar dari orang ke orang melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut yang menyebar ketika seseorang yang terinfeksi COVID-19 batuk atau bersin. Kemudian, tetesan ini mendarat pada benda dan permukaan di sekitar orang tersebut.

Orang lain kemudian tidak sengaja menyentuh benda atau permukaan ini, kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut mereka, sehingga mereka terinfeksi COVID-19. Orang-orang juga dapat terinfeksi COVID-19 jika mereka menghirup tetesan dari seseorang dengan COVID-19 yang batuk atau bersin.

Langkah-langkah yang disarankan untuk mencegah infeksi adalah sering mencuci tangan, menjaga jarak kurang lebih 1 meter dari orang lain, dan menjauhkan tangan dari wajah. Penggunaan masker lebih diutamakan bagi mereka yang terinfeksi dan tenaga medis, tetapi tidak untuk masyarakat umum. Sampai detik ini, belum ada vaksin khusus untuk COVID-19.

WHO mendeklarasikan wabah COVID-19 sebagai pandemi pada 11 Maret 2020. Bukti penularan lokal penyakit ini telah ditemukan di banyak negara di seluruh dunia. Sejauh ini, sebanyak 343.411 orang terinfeksi yang menewaskan 14.775 orang dengan tingkat kematian mencapai 4,3%.

Komentar

Posting Komentar